Tuesday, 21 April 2015

Tes Tertulis



2.1.1.     Pengertian Tes Tertulis
Tes Tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda, mewarnai, menggambar dan lain sebagainya. Tes tulis merupakan suatu tes yang menuntut siswa memberikan jawaban secara tertulis.
Tes tertulis mempunyai dua macam yaitu yang pertama tes objektif  (tes tertulis yang menuntut siswa memilih jawaban yang telah disediakan atau memberikan jawaban singkat dan  terbatas), yang kedua yaitu tes Subjektif/Essai (tes tertulis yang meminta siswa memberikan jawaban berupa uraian atau kalimat yang panjang-panjang. Panjang pendeknya tes essai adalah relatif, sesuai kemampuan si penjawab tes).
2.1.2.   Bentuk-bentuk penyusunan tes tertulis
1.      Pilihan Ganda (multiple choice test)
Multiple choice test terdiri atas suatu keterangan atau pemberitahuan tentang suatu pengertian yang belum lengkap. Dan untuk melengkapinya harus memilih satu dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan. Atau Multiple choice test terdiri atas bagian keterangan (stem) dan bagian kemungkinan jawaban atau alternatif (option). Kemungkinan jawaban (option) terdiri atas satu jawaban benar yaitu kunci jawaban dan beberapa pengecoh.

2.      Dua Pilihan (benar-salah, ya-tidak)
Tes benar-salah (true-false). Soal-soalnya berupa pernyataan-pernyataan (statement).Statement tersebut ada yang benar dan ada yang  salah. Orang yang ditanya bertugas untuk menandai masing-masing pernyataan itu dengan melingkari huruf B jika pernyataan itu betul menurut  pendapatnya dan melingkari huruf S jika pernyataannya salah.
3.      Menjodohkan (matching test)
Matching test dapat kita ganti dengan istilah mempertandingkan, mencocokkan, memasangkan, atau menjodohkan. Matching test terdiri atas satu seri pertanyaan dan satu seri jawaban. Masing-masing pertanyaan mempunyai jawaban yang tercantum dalam seri jawaban. Tugas murid ialah mencari dan menempatkan jawaban-jawaban sehingga sesuai atau cocok dengan pertanyaannya.
4.      Isian atau Melengkapi (Completion test)
Completion test biasa kita sebut dengan istilah tes isian, tes menyempurnakan, atau tes melengkapi. Completion test terdiri atas kalimat-kalimat yang ada bagian-bagiannya yang dihilangkan. Bagian yang dihilangkan atau yang harus diisi oleh murid ini adalah merupakan pengertian yang kita minta dari murid.
5.      Soal Uraian
Pengertian tes uraian adalah butiran soal yang mengandung pertanyaan atau tugas yang jawaban atau pengerjaan soal tersebut harus dilakukan dengan cara mengekspresikan pikiran peserta tes secara naratif. Cirri khas tes uraian ialah jawaban terhadap soal tersebut tidak disediakan oleh orang yang mengkontruksi butir soal, tetapi dipasok oleh peserta tes. Peserta tes bebas untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Setiap peserta tes dapat memilih, menghubungkan, dan atau menyampaikan gagasan dengan menggunakan kata-katanya sendiri.
Tes bentuk uraian bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa menguraikan apa yang dalam pikiarannya tentang sesuatu masalah yang diajukan oleh guru.
Tes bentuk ini terbagi atas dua jenis :
1.      Uraian bebas, yakni tes yang soal-soalnya harus dijawab dengan uraian secara bebas.
2.      Uraian terbatas, yakni tes yang soalnya menuntut jawaban dalam bentuk uraian yang telah terarah
Tes uraian ini lebih mudah memerikasannya, karena dapat ditetapkan standar jawaban yang benar.
Tes bentuk uraian ini pada umumnya dianggap tepat apabila kita akan mengevaluasi kemampuan siswa dalam :
a.       Menganalisis masalah secara ilmiah
b.      Menarik kesimpulan tentang sesuatu
c.       Menyusun gagasan secara konseptual
d.      Melukiskan suatu proses
e.       Menguraikan sebab-akibat
f.       Mendiskusikan masalah
Dari berbagai alat penilaian tertulis, tes memilih jawaban benar-salah, isian singkat, dan menjodohkan merupakan alat yang hanya menilai kemampuan berpikir rendah, yaitu kemampuan mengingat (pengetahuan). Tes pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat dan memahami. Pilihan ganda mempunyai kelemahan, yaitu peserta didik tidak mengembangkan sendiri jawabannya tetapi cenderung hanya memilih jawaban yang benar dan jika peserta didik tidak mengetahui jawaban yang benar, maka peserta didik akan menerka. Hal ini menimbulkan kecenderungan peserta didik tidak belajar untuk memahami pelajaran tetapi menghafalkan soal dan jawabannya. Alat penilaian ini kurang dianjurkan pemakaiannya dalam penilaian kelas karena tidak menggambarkan kemampuan peserta didik yang sesungguhnya.
Tes tertulis bentuk uraian adalah alat penilaian yang menuntut peserta didik untuk mengingat, memahami, dan mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal yang sudah dipelajari, dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Alat ini dapat menilai berbagai jenis kemampuan, misalnya mengemukakan pendapat, berpikir logis, dan menyimpulkan. Kelemahan alat ini antara lain cakupan materi yang ditanyakan terbatas.
Dalam menyusun instrumen penilaian tertulis perlu dipertimbangkan hal-hal berikut:
a.       materi, misalnya kesesuian soal dengan indikator pada kurikulum
b.      konstruksi, misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas
c.       bahasa, misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/ kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda.
2.1.3.     Dasar-dasar Penyusunan Tes Tertulis
·         Tes harus dapat mengukur apa-apa yang dipelajari dalam proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan instruksional yang tercantum di dalam kurikulum yang berlaku.
·         Tes yang tersusun benar-benar mewakili bahan yang telah dipelajari.
·         Tes hendaknya disesuaikan dengan aspek-aspek tingkat belajar yang diharapkan.
·         Tes hendaknya disusun sesuai dengan tujuan penggunaan tes itu sendiri, karena tes dapat disusun untuk keperluan : pretes/postes, materi tes, tes diagnostic, tes prestasi belajar, tes formatif, dan tes sumatif.
·         Tes hendaknya dapat diguankan untuk memperbaiki proses belajar mengajar.
·         Tes yang disusun mempertimbangkan proporsi tingkat kesulitan dan kesesuaiannya dengan taraf kemampuan siswa.
·         Petunjuk  pengerjaan  soal  jelas  dan  sesuai  dengan  persoalan  yang disajikan.
·         Tes  disusun  dengan  mempertimbangkan  kaidah-kaidah  penulisan  soal pada masing-masing jenis soal.
·         Penulisan soal menggunakan bahasa yang benar.

2.2.            Langkah-langkah  Penyusunan Tes Tertulis
2.2.1.     Bentuk Soal Pilihan Ganda
Soal pilihan ganda merupakan bentuk soal yang jawabannya dapat dipilih dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disedikan. Kontruksinya terdiri dari pokok soal dan pilihan jawaban. Pilihan jawaban terdiri atas kunci dan pengecoh. Kunci jawaban harus merupakan jawaban benar atau paling benar sedangkan pengecoh merupakan jawaban tidak benar, namun daya jebaknya harus berfungsi, artinya siswa memungkinkan memilihnya jika tidak menguasai materinya.
Soal pilihan ganda dapat diskor dengan mudah, cepat, dan memiliki objektivitas yang tinggi, mengukur berbagai tingkatan kognitif, serta dapat mencakup ruang lingkup materi yang luas dalam suatu tes. Bentuk ini sangat tepat digunakan untuk ujian berskala besar yang hasilnya harus segera diumumkan, seperti ujian nasional, ujian akhir sekolah, dan ujian seleksi pegawai negeri. Hanya saja, untuk meyusun soal pilihan ganda yang bermutu perlu waktu lama dan biaya cukup besar, disamping itu, penulis soal akan kesulitan membuat pengecoh yang homogen dan berfungsi, terdapat peluang untuk menebak kunci jawaban, dan peserta mudah mencotek kunci jawaban.
Secara umum, setiap soal pilihan ganda terdiri dari:
  • pokok soal (stem) dan
  • pilihan jawaban (option).
Pilihan jawaban terdiri atas kunci jawaban dan pengecoh (distractor).
Dalam penyusunan soal tes tertulis, penulis soal harus memperhatikan kaidah-kaidah penulisan soal dilihat dari segi:
  • materi;
  • konstruksi; dan
  • bahasa.
Selain itu soal yang dibuat hendaknya menuntut penalaran yang tinggi.
Hal ini dapat dilakukan antara lain dengan cara :
  • mengidentifikasi materi yang dapat mengukur perilaku pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, atau evaluasi. Perilaku ingatan juga diperlukan namun kedudukannya adalah sebagai langkah awal sebelum siswa dapat mengukur perilaku yang disebutkan di atas;
  • membiasakan menulis soal yang mengukur kemampuan berfikir kritis dan mengukur keterampilan pemecahan masalah; dan
  • menyajikan dasar pertanyaan (stimulus) pada setiap pertanyaan, misalnya dalam bentuk ilustrasi/bahan bacaan seperti kasus, contoh, tabel dan sebagainya.
Kaidah Penulisan Soal Pilihan Ganda
Dalam menulis soal pilihan ganda harus memperhatikan kaidah-kaidah
sebagai berikut:
 Materi
  1. Soal harus sesuai dengan indikator.
  2. Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari segi materi.
  3. Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar atau yang paling benar.
Konstruksi
  1. Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas.
  2. Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja.
  3. Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban benar.
  4. Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda.
  5. Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama.
  6. Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan, "Semua pilihan jawaban di atas salah", atau "Semua pilihan jawaban di atas benar".
  7. Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka tersebut, atau kronologisnya.
  8. Gambar, grafik, tabel, diagram, dan sejenisnya yangterdapat pada soal harus jelas dan berfungsi.
  9. Butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya.
Bahasa
  1. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasaIndonesia.
  2. Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat, jika soal akan digunakan untuk daerah lain atau nasional.
  3. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang komunikatif.
  4. Pilihan jawaban jangan mengulang kata atau frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian.
Rambu-rambu penulisan
Tim Puslitbang Sisdiknas Depdikbud pun memberikan beberapa rambu-rambu penulisan tes pilihan ganda.  Berikut uraiannya yang ditinjau dari aspek materi, konstruksi, dan bahasa yang digunakan.
1.      Soal harus sesuai dengan indikator. Artinya soal harus menanyakan perilaku dan materi yang hendak diukur sesuai dengan tuntutan indikator.
2.      Pengecoh berfungsi.
3.      Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar atau yang paling benar. Artinya, satu soal hanya mempunyai satu kunci jawaban.  Jika terdapat beberapa jawaban yang benar, maka kunci jawaban yang paling benar.
4.      Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas.  Artinya kemampuan/ materi yang hendak diukur/ditanyakan harus jelas, tidak menimbulkan pengertian atau penafsiran yang berbeda dari yang dimaksudkan penulis, dan hanya mengandung satu persoalan untuk setiap nomor.  Bahasa yang digunakan harus komunikatif, sehingga mudah dimengerti siswa.  Apabila tanpa harus melihat dahulu pilihan jawaban, siswa sudah dapat mengerti pertanyaan/maksud pokok soal, maka dapat disimpulkan bahwa pokok soal tersebut sudah jelas.
5.      Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja.  Artinya apabila terdapat rumusan atau pernyataan yang sebetulnya tidak diperlukan, maka rumusan atau pernyataan tersebut dihilangkan saja.
6.      Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban benar. Artinya pada pokok soal jangan sampai terdapat kata, frase, atau ungkapan yang dapat memberikan petunjuk ke arah jawaban yang benar.
7.      Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda.  Artinya, pada pokok soal jangan sampai terdapat dua kata atau lebih yang mengandung arti negatif.  Hal ini untuk mencegah terjadinya kesalahan penafsiran siswa terhadap arti pernyataan yang dimaksud.  Untuk ke-terampilan bahasa, penggunaan negatif ganda diperbolehkan kalau yang ingin diukur justru pengertian tentang negatif ganda itu sendiri.
8.      Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari segi materi.  Artinya semua pilihan jawaban harus berasal dari materi yang sama seperti yang ditanyakan oleh pokok soal, penulisannya harus setara, dan semua pilihan jawaban harus berfungsi.
9.      Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama.  Kaidah ini diperlukan karena adanya kecenderungan siswa untuk memilih jawaban yang paling panjang,  karena seringkali jawaban yang lebih panjang itu lebih lengkap dan merupakan kunci jawaban.
10.  Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan, “Semua pilihan jawaban di atas salah”, atau “Semua pilihan jawaban di atas benar”.  Artinya dengan adanya pilihan jawaban seperti ini, maka secara materi pilihan jawaban berkurang satu, karena pernyataan itu bukan merupakan materi yang ditanyakan.
11.  Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka tersebut, atau kronologis waktunya. Pengurutan angka dilakukan dari nilai angka paling kecil ke nilai angka paling besar atau sebaliknya, dan pengurutan waktu ber-dasarkan kronologis waktunya.  Pengurutan tersebut dimaksudkan untuk memudahkan siswa melihat pilihan jawaban.
12.  Gambar, grafik, tabel, diagram dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi.  Artinya, apa saja yang menyertai suatu soal yang ditanyakan harus jelas, terbaca, dapat dimengerti oleh siswa.  Apabila soal tersebut tetap bisa dijawab tanpa melihat gambar, grafik, tabel atau sejenisnya yang terdapat pada soal, berarti gambar, grafik, tabel  tersebut tidak berfungsi.
13.  Butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya.  Keter-gantungan pada soal sebelumnya menyebabkan siswa yang tidak dapat menjawab benar soal pertama tidak akan dapat pula menjawab benar soal berikutnya.
14.  Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
15.  Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat, jika soal akan digunakan untuk daerah lain atau nasional.
16.  Pilihan jawaban jangan mengulang kata atau frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian.  Letakkan kata tersebut pada pokok soal (1999:41-45).
Hal-hal lainnya yang harus diperhatikan dalam penyusunan butir tes pilihan ganda antara lain:
  • Jumlah kemungkinan jawaban (option) untuk setiap butir soal hendaknya sama.
  • Kemungkinan jawaban hendaknya tidak merupakan bagian kalimat dari butir soal, tetapi ditempatkan di bawah butir soal.
  • Kemungkinan jawaban tersebar letaknya tidak kepada nomor yang sama.
  • Kemungkinan jawaban hendaknya homogen, karena berasal dari disiplin ilmu yang sama.
  • Hendaknya tidak membuat jawaban, misalnya dengan membuat kemungkinan jawaban yang semuanya salah.
2.2.2.      Bentuk Tes Benar-Salah (True-False)
Soal-soalnya berupa pernyataan-pernyataan (statement). Statement tersebut ada yang benar dan ada yang salah. Petunjuk penyusunannya antara lain :
1.      Tulislah huruf B-S pada permulaan masing-masing item dengan maksud untuk mempermudah mengerjakan dan menilai (scoring).
2.      Usahakan agar jumlah butir soal yang harus dijawab B sama dengan butir soal yang harus dijawab S. Dalam hal ini hendaknya pola jawaban tidak bersifat teratur misalnya: B-S-B. S-B-S atau SS-BB-SS-BB-SS.
3.      Hindari item yang masih bisa diperdebatkan:
Contoh: B-S. Kekayaan lebih penting daripada kepandaian.
4.      Hindarilah pertanyaan-pertanyaan yang persis dengan buku.
5.      Hindarilah kata-kata yang menunjukkan kecenderungan mem¬beri saran seperti yang dikehendaki oleh item yang bersangkutan, misalnya: semuanya, tidak selalu, tidak pernah, dan sebagainya.

2.2.3.     Menjodohkan (Matching Test)
1.      Matching test dapat kita ganti dengan istilah mempertandingkan, mencocokkan, memasangkan, atau menjodohkan. Matching test terdiri atas satu seri pertanyaan dan satu seri jawaban.
Petunjuk-petunjuk yang perlu diperhatikan dalam menyusun tes bentuk matching ialah:
Seri pertanyaan-pertanyaan dalam matching test hendaknya tidak lebih dari sepuluh soal (item).
2.      Jumlah jawaban yang harus dipilih, harus lebih banyak daripada jumlah soalnya (lebih kurang 1 1/2 kali).
3.      Antara item-item yang tergabung dalam satu seri matching test harus merupakan pengertian-pengertian yang benar-benar homogen.
Pedoman dan Penyusunan Tes Penjodohkan
Adapun yang harus diperhatikan untuk menjadi pedoman dalam membuat item tes menjodohkan adalah sebagai berikut:
1.      Kata-kata dalam terjodoh (premis) dan penjodohan (response) masing-masing harus homogen dan tersusun dalam satu kelompok tersendiri.
2.      Jumlah kata-kata yang dipakai tidak kurang dan tidak lebih dari 15.
3.      Jumlah kata terjodoh dan penjodoh tidak sama dan disusun tidak sama dengan maksud penjodohan.
4.      Dasar penjodohan harus jelas dan konsisten.
Sedangkan petunjuk dalam penyusunan item tes menjodohkan adalah sebagai berikut:
1.      Seri pertanyaan-pertanyaan  dalam matching test hendaknya tidak lebih dari 10 soal (item), Sebab pertanyaan-pertanyaan yang banyak itu akan membingungkan murid dan juga kemungkinan akan mengurangi homogenitas antara item-item itu. Jika itemnya cukup banyak, lebih baik dijadikan 2 seri.
2.      Jumlah jawaban yang harus dipilih, harus lebih banyak dari pada jumlah soalnya (lebih kurang 1,5 kali). Dengan demikian, murid dihadapkan kepada banyak pilihan yang semuanya mempunyai pemikiran yang benar, sehingga murid terpaksa memilih mempergunakan pikirannya.
3.      Antara item-item yang tergabung dalam satu seri matching test harus merupakan
4.      pengertian-pengertian yang benar-benar homogen.

2.2.4.     Tes Isian (Completion Test)
1.      Completion test biasa kita sebut dengan istilah tes isian, tes menyempurnakan, atau tes melengkapi. Completion test terdiri atas kalimat-kalimat yang ada bagian-bagiannya yang dihilangkan. Bagian yang dihilangkan atau yang harus diisi oleh murid ini adalah merupakan pengertian yang kita minta dari murid. Saran-saran dalam menyusun tes bentuk isian ini adalah sebagai berikut:
Perlu selalu diingat bahwa kita tidak dapat merencanakan lebih dari satu jawaban yang kelihatan logis.
2.      Jangan mengutip kalimat/pernyataan yang tertera pada buku/ catatan.
3.      Diusahakan semua tempat kosong hendaknya sama panjang.
4.      Diusahakan hendaknya setiap pernyataan jangan mempunyai lebih dari satu tempat kosong.
5.      Jangan mulai dengan tempat kosong.
Ada beberapa petunjuk khusus penyusunan tes melengkapi ini, diantaranya:
1.      Hindarkan pernyataan yang tidak jelas.
2.      Jangan menghilangkan kata-kata kunci terlalu banyak.
3.      Hilangkan kata-kata yang mengandung arti penting, dan jangan dihilangkan kata-kata yang tidak penting.
4.      Hindarkan munculnya indikator jawaban yang dapat dibaca dari pernyataan yang ada dalam teks soal.
5.      Usahakan agar jawaban yang diberikan cukup terdiri satu kata atau satu kalimat.
6.      Jangan membuang kata terdepan dari suatu kalimat, hal ini akan menyebabkan sukar untuk dipahami selain itu juga tampak tidak wajar.
7.      Besar kolom yang dikosongkan untuk diisi hendaknya sama besar.
8.      Untuk mempermudah skoringnya, hendaknya disediakan kolom jawaban dan diletakkan di sebelah kanan setiap isiannya.
2.2.5.     Tes Uraian
Sebagai salah satu jenis tes hasil belajar, tes uraian dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu: tes uraian bentuk bebas atau terbuka dan tes uraian bentuk terbatas.
Pada tes uraian bentuk terbuka, jawaban yang dikehendaki muncul dari testsepenuhnya diserahkan kepada test itu sendiri. Artinya, testee mempunyai kebebasan yang seluas-luasnya dalam merumuskan, mengorganisasikan dan menyajikan jawabannya dalam bentuk uraian.
Adapun pada tes uraian bentuk terbatas, jawaban yang dikehendaki muncul dari test adalah jawaban yang sifatnya sudah lebih terarah (dibatasi).
Petunjuk Operasional dalam Penyusunan Tes Uraian
Bertitik tolak dari keunggulan-keunggulan dan kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh tes hasil belajar bentuk uraian seperti telah dikemukakan di atas, maka beberapa petunjuk operasional berikut ini akan dapat dijadikan pedoman dalam menyusun butir-butir soal tes uraian.
Pertama, dalam menyusun butir-butir soal tes uraian, sejauh mungkin harus dapat diusahakan agar butir-butir soal tersebut dapat mencakup ide-ide pokok dari materi pelajaran yang telah diajarkan, atau telah diperintahkan kepada testee untuk mempelajarinya.
Kedua, untuk menghindari timbulnya perbuatan curang oleh testee (misalnya: menyontek atau bertanya kepada testee lainnya), hendaknya diusahakan agar susunan kalimat soal dibuat berlainan dengan susunan kalimat yang terdapat dalam buku pelajaran atau bahan lain yang diminta untuk mempelajarinya.
Ketiga, sesaat setelah butir-butir soal tes uraian dibuat, hendaknya segera disusun dan dirumuskan secara tegas, bagaimana atau seperti apakah seharusnya jawaban yang dikehendaki oleh testee sebagai jawaban yang betul.
Keempat, dalam menyusun butir-butir soal tes uraian hendaknya diusahakan agar pertanyaan-pertanyaan atau perintah-perintahnya jangan dibuat seragam, melainkan dibuat secara bervariasi.
Kelima, kalimat soal hendaknya disusun secara ringkas, padat dan jelas.
Keenam, suatu hal penting yang tidak boleh dilupakan oleh testee ialah, agar dalam menyusun butir-butir soal yang harus dijawab atau dikerjakan oleh testee, hendaknya dikemukakan pedoman tentang cara mengerjakan atau menjawab butir-butir soal tersebut.
Cara Pengembangan Tes Uraian
Cara pengembangan tes uraian adalah sebagai berikut:
1.      Merumuskan tujuan tes.
Tes uraian dapat dibuat untuk bermacam-macam tujuan, seperti:
Pertama, tes yang bertujuan untuk mengadakan evaluasi belajar tahap akhir (EBTA) atau ujian lain yang sejenis dengan EBTA.
Kedua, tes yang bertujuan untuk mengadakan seleksi , misalnya untuk saringan masuk perguruan tinggi atau untuk penerimaan beasiswa untuk murid yang berbakat.
Ketiga, tes yang bertujuan untuk mendiagnosis kesulitan belajar murid, yang dikenal dengan tes diagnostic.
2.      Analisis Kurikulum atau Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP)
Analisis kurikulum bertujuan untuk menentukan bobot setiap pokok bahasan yang akan dijadikan dasar dalam menentukan item atau butir soal dalam membuat kisi-kisi soal
3.      Analisis Buku Pelajaran dan Sumber dari Materi Belajar Lainnya.
Analisis buku pelajaran digunakan untuk menentukan bobot setiap pokok bahasan berdasarkan jumlah halaman materi yang termuat dalam buku pelajaran atau sumber materi belajar lainnya.
4.      Mengidentifikasi materi-materi yang cocok untuk dibuat dengan soal uraian
Tes uraian biasanya dibuat dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan menganalisis yang dimiliki oleh siswa, atau menjelaskan prosedur, hubungan sebab-akibat, atau memberikan argumen-argumen yang relevan.
5.      Membuat kisi-kisi.
Manfaat kisi-kisi adalah untuk menjamin sampel soal yang baik, dalam arti mencakup semua pokok bahasan secara proporsional.
6.      Penulisan soal disertai pembuatan kunci jawaban dan pedoman penskoran.
Ada beberapa petunjuk dalam penulisan butir-butir soal seperti valid, dapat dikerjakan dengan kemampuan yang spesifik, dan berikan petunjuk pengerjaan soal secara lengkap dan jelas.
7.      Penelaahan kembali rumusan soal (oleh sendiri atau orang lain)
8.      Reproduksi tes terbatas.
Tes yang sudah dibuat diperbanyak dalam jumlah yang cukup menurut jumlah sampel uji coba atau jumlah peserta.
9.      Uji Coba Tes.
Sampel uji coba harus mempunyai karakteristikyang kurang lebih sama dengan karakteristik peserta tes yang sesungguhnya.
10.  Analisis hasil uji coba
Berdasarkan data hasil uji coba dilakukan analisis, terutama analisis butir soal yang meliputi validitas butir, tingkat kesukaran, dan fungsi pengecoh.
11.  Revisi soal
Apabila soal-soal yang valid belum memenuhi syarat berdasarkan hasil konfirmasi dengan kisi-kisi, dapat dilakukan perbaikan atau revisi soal.
12.  Merakit soal menjadi tes


2.3. Kebaikan dan KelemahanTesTertulis
2.3.1.     Tes Pilihan Ganda
Kebaikan Tes Pilihan Ganda
1.      Lebih fleksibel dan efektif
2.      Mencakup hamper seluruh bahan pelajaran
3.      Tepat untuk mengukur penguraian informas, perbendaharaan kata-kata, pengertian-pengertian, aplikasi prinsip, rumus, serta kemampuan untuk menginterpretasikan data.
4. Dapat juga untuk mengukur kemampuan siswa dalam hal membuat tafsiran, melakukan pemilihan, mendiskriminasikan, menenrukan, pendapat atas dasar alasan tertentu, dan menarik kesimpulan.
4.      Koreksi dan penilaiannya mudah.
5.      Obyektif.
6.      Dapat dipakai berulang-ulang.
Kelemahan tes pilihan ganda
1.      Sulit serta membutuhkan waktu yang lama dalam menyusun soalnya.
2.      Tidak dapat dipakai untuk mengukur kecakapan siswa dalam mengorganisasikan bahan.
2.3.2.     Tes Benar Salah
Kebaikan-Kebaikan Tes Benar Salah
1.      Muda dan cepat dalam menilai.
2.      Waktu mengerjakan nya cepat.
3.      Penilaiannya objektif.
4.      Menyusun soal nya lebih mudah disanding dengan tes pilihan berganda.
5.      Mencakup bahan yang luas dan tidak banyak memakan tempat karena biasanya pertanyaan pertanyaan nya singkat saja.
Kelemahan-kelemahan Tes Benar Salah
1.      Lama menyusun soalnya dibanding dengan tes essay.
2.      Kemungkinan mengira ngira jawaban nya besar.
3.      Menyusun pernyataan (soal) supaya pernyataan itu benar atau hanya salah adalah sulit.
4.      Kurang dapat membedakan murid yang pandai dari murid yang kurang pandai.
5.      Reliabilitas nya rendah
2.3.3.     Tes Menjodohkan
Kebaikan tes menjodohkan
1.      Baik untuk mengukur proses mental yang rendah (knowledge).
2.      Kemungkinan untuk mengukur proses mental yang tinggi tetap ada tetapi sulit sekali.
3.      Obyektif
4.      Mudah disusun.
5.      Contoh untuk menyusun informasi-informasi yang berbentuk fakta dari suatu pengertian, hubungan antar pengertian atau konsep-konsep.
Kelemahan tes menjodohkan
1.      Kelemahan dari soal tes bentuk ini adalah sukar unutk mengukur proses mental yang tinggi, dan siswa cenderung untuk membuat tafsiran-tafsiran.

2.3.4.     Tes Isian
Kebaikan tes isian
1.      Mudah dalam penyusunannya, terutama untuk mengukur ingatan/ pengetahuan.
2.      Sedikit kesempatan untuk menduga-duga jawaban.
3.      Cocok untuk siswa kelas/ tingkat rendah.
Kelemahan tes isian
1.      Sukar untuk mengukur proses mental yang tinggi.
2.      Sulit menyusun soal yang hanya satu jawaban, lebih-lebih untuk proses mental yang tinggi.
3.      Sulit penilaiannya jika terdapat bermacam-macam jawaban yang benar.
2.3.5.     Tes Uraian
Kebaikan Tes Uraian
1.      Tes uraian adalah merupakan jenis tes hasil belajar yang pembuatannya dapat dilakukan dengan mudah dan cepat. Hal ini disebabkan karena kalimat-kalimat soal pada tes uraian itu adalah cukup pendek, sehingga dalam penyusunannya tidak terlalu sulit dan tidak terlalu banyak memakan waktu, tenaga, pikiran, peralatan dan biaya.
2.      Dengan menggunkan tes uraian, dapat dicegah kemungkinan timbulnya permainan spekulasi dikalangan testee. Hal ini dimungkinkan karena hanya testee yang mampu memahami pertanyaan atau perintah yang diajukan dalam tes itu sajalah yang akan dapat memberikan jawaban yang benar dan tepat. Adapun bagi testee yang tidak memahami butir-butir pertanyaan atau perintah yang dikemukakan dalam tes tersebut, kecil sekali kemungkinan untuk dapat memberikan jawaban dengan benar dan tepat.
3.      Melalui butir-butir soal tes uraian, penyusun soal akan dapat mengetahui seberapa jauh tingkat kedalaman dan tingkat penguasaan testee dalam memahami materi yang ditayangkan dalam tes tersebut.
4.      Dengan menggunakan tes uraian, testee akan terdorong dan terbiasa untuk berani mengemukakan pendapat dengan menggunakan susunan kalimat dan gaya bahasa yang merupakan hasil olahannya sendiri.
Kelemahan Tes Uraian
1.      Tes uraian pada umumnya kurang dapat menampung dan mencakup serta mewakili isi dan luasnya materi atau bahan pelajaran yang telah diberikan kepada testee, yang seharusnya diujikan dalm tes hasil belajar. Seperti diketahui jumlah butir soal tes uraian itu sangat terbatas, sehingga sangat sulit bagi pembuat soal untuk menyusun soal dalam jumlah yang amat terbatas. Akan tetapi dalam keterbatasannya itu, butir-butir soal tes tersebut harus dapat menjadi wakil yang representatif bagi keseluruhan materi pelajaran yang telah diberikan atau yang telah diperintahkan untuk dipelajari kepada tastee.
2.      Cara mengoreksi jawaban soal tes uraian cukup sulit. Hal ini disebabkan karena sekalipun butir soalnya sangat terbatas, namun jawabannya bisa panjang lebar dan bervariasi. Sehingga pekerjaan koreksi akan banyak menyita waktu, tenaga dan pikiran.
3.      Dalam memberikan skor hasil ter uraian, terdapat kecenderungan bahwa testee lebih banyak bersifat subyektif. Beberapa faktor yang dapat mendorong testee untuk bertindak kurang obyektif ini misalnya adalah: walaupun testee dapat menjawab dengan betul terhadap butir-butir soal yang diajukan dalam tes, namun karena tulisannya jelek, tidak teratur, jorok dan sebagainya, maka skor atau nilai yang diberikan kepada testee menjadi lebih rendah dari pada yang semestinya. Sebaliknya testee yang sebenrnya tidak lebih baik kualitas jawabannya daripada testee yang telas di sebutkan di atas akan tetapi karena tulisannya baik, jawaban disusun secara teratur, urut dan rapi, justru mendapat skor atau nilai yang lebih tinggi dari yang semestinya.
4.      Pekerjaan koreksi terhadap lembar-lembar jawaban hasil tes uraian sulit untuk diserahkan kepada orang lain, sebab pada tes uraian orang yang paling tahu mengenai jawaban yang sempurna adalah penyusun tes itu sendiri. Karena itu maka apabila pekerjaan koreksi dimaksud di atas diserahkan kepada orang lain, akan mengalami banyak kesulitan juga ada kemungkinan pemberian skor atau nilai hasil tes bisa berbeda dari yang semestinya. 
5.      Daya ketepatan mengukur (validitas) dan daya keajegan megukur (reliabilitas) yang dimiliki oleh tes uraian pada umumnya rendah sehingga kurang dapat diandalkan sebagai alat pengukur hasil belajar yang baik.

No comments:

Post a Comment